
Lebaran, momen yang dinanti-nantikan umat Muslim di seluruh dunia, bukan hanya sekadar merayakan kesuksesan menunaikan ibadah puasa selama sebulan penuh. Lebaran merupakan titik temu yang membawa keluarga dan kerabat dekat bersama dalam kebersamaan dan kebahagiaan. Di tengah-tengah gemerlapnya perayaan, ada satu tradisi yang khas dan tetap dipegang teguh oleh masyarakat Indonesia, yaitu tradisi “sungkeman”.
Sungkeman adalah bentuk penghormatan dan ungkapan rasa sayang serta penghargaan kepada orang tua, kerabat, dan tetangga. Ini adalah momen di mana generasi muda menundukkan kepala mereka sebagai tanda hormat kepada orang tua dan keluarga yang lebih tua, sambil memohon maaf atas segala kesalahan yang telah terjadi dan berharap mendapatkan restu dari mereka. Oleh sebab itu, MI Ma’arif Ngrupit melaksanakan kegiatan pemaparan terkait tradisi sungkeman saat lebaran kepada seluruh siswa MI Ma’arif Ngrupit, mulai dari kelas 1 sampai kelas 6 yang dibagi menjadi 4 pembagian waktu. Pemaparannya berisi makna dan tata cara sungkeman saat lebaran yang disampaikan oleh Ibu Elis Sri Winaroh dan didampingi dengan wali kelas masing-masing.

Seluruh siswa tampak antusias dan juga semangat dalam mendengarkan pemaparan dari Ibu Elis Sri Winaroh. Ibu Elis menjelaskan bahwasanya makna dari sungkeman adalah sarana untuk meminta maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan kepada orang yang lebih tua. Ungkapan ‘nyuwun ngapura’ dalam bahasa Jawa mencerminkan inti dari permohonan ini. Kata ‘ngapura’ sendiri berakar dari bahasa Arab, ‘ghafura,’ yang berarti pengampunan. Ini menunjukkan betapa pentingnya saling memaafkan dalam ajaran agama Islam, khususnya di hari raya Idul Fitri.
Kedua, sungkeman menunjukkan rasa hormat, bakti, dan kasih sayang kepada orang tua dan leluhur. Sikap merendah dan bersimpuh melambangkan kerendahan hati dan penghargaan atas jasa-jasa mereka dalam membesarkan dan mendidik. Gerakan fisik ini bukan sekadar formalitas, tetapi merupakan ekspresi nyata rasa syukur dan cinta kepada orang tua. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai luhur budaya Indonesia yang menghormati orang yang lebih tua.

Ketiga, tradisi sungkeman memperkuat ikatan keluarga dan mempererat silaturahmi antar anggota keluarga. Momen ini menjadi kesempatan untuk berkumpul, bertukar cerita, dan memperbarui hubungan yang mungkin renggang karena kesibukan atau jarak dan yang keempat adalah anak-anak biasanya juga memohon doa restu dari orang tua mereka untuk keberkahan di tahun yang akan datang. Doa restu dari orang tua dianggap sebagai sumber kekuatan dan keberkahan dalam menjalani kehidupan. Setelah pemaparan terkait makna dan juga tata cara sungkeman, kegiatan selanjutnya adalah siswa mempraktekkan secara langsung sungkeman kepada wali kelas masing-masing. Alhasil dari raut wajah yang tampak, adalah raut wajah senang akan tetapi juga serius. Praktek sungkeman berjalan lancar dan Khidmah.

“melalui tradisi sungkeman, kita diajarkan untuk selalu merendah, menghargai orang lain, dan senantiasa meminta maaf atas kesalahan yang telah diperbuat. Ini merupakan nilai-nilai yang penting untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, agar tercipta hubungan yang harmonis dengan sesama. Oleh karena itu, kami serius untuk melestarikan tradisi sungkeman kepada siswa-siswi MI Ma’arif Ngrupit, agar tradisi sungkeman tidak punah digerus oleh zaman yang semakin canggih.” Pungkas Elis Sri Winaroh
Editor : Admin Website MI Ma’arif Ngrupit